LARI.
Semua tau bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu cabang olahraga yang paling
mudah, murah dan lumrah. Dan sepertinya tahun ini aktivitas tersebut menjadi
sedemikian populernya sehingga banyak sekali event yang diselenggarakan., terutama di kota ini ; Jakarta.
LARI
bukanlah aktivitas olahraga yang asing bagi saya, sejak jaman sekolah dasar
saya sudah sangat senang dengan olahraga yang satu ini karena sangat mudah dan
tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Di masa kecil yang serba susah, sebab
saya bukan dari keluarga yang kaya raya, maka tidak semua jenis olahraga bisa
saya tahu dan saya mainkan. Pada masa itu saya bisa sangat iri dengan tetangga
saya yang ikut les renang setiap minggu paginya. Tapi dari rasa iri itu saya jadi
maksain diri untuk bisa renang juga. “Belajar sendiri saja”, itulah fikiran
saya waktu itu. Dan hasilnya juga lumayan, saya bisa berenang dengan pelbagai
gaya saat ini, yah karena belajar sendiri.
Kembali
ke soal LARI.
Setelah
saya menikah, saya masih tinggal berjauhan dengan si Istri bawel karena dia
masih harus menyelesaikan pendidikan Magisternya. Itulah mengapa saya masih merasakan
jika menikah itu memang tak berbeda dengan semasa saya masih melajang, hanya
berbeda status dan tentunya tanggung jawab. Karena tak berbeda itulah maka saya
tetap melakukan aktivitas dan hobi yang rutin saya lakukan, salah satunya
adalah LARI.
Sepulang
dari kantor entah itu LARI atau tidak, saya biasanya melakukan aktivitas
olahraga. Untuk LARI biasanya saya akan langsung menuju ke salah satu dari dua
pilihan tempat ; GBK atau Monas. Tapi saya lebih sering memilih GBK agar tak
bosan. Bekerja di dalam lingkungan Monas membuat saya bosan dan di GBK saya
bisa mendapat penyegaran.
Tahun
ini LARI memang sedang menjadi olahraga primadona di dunia. Berbagai perlombaan
juga datang silih berganti dan Jakarta sendiri juga tak mau ketinggalan
mengadakan berbagai event lomba yang
dikemas secara menarik sehingga menumbuhkan minat orang untuk ikut dan semangat
berlari.
Lomba
pertama yang saya ikuti di tahun ini adalah ‘Halo Night Run’ yang disponsori
oleh salah satu operator selular terkemuka di Indonesia. Uniknya, lombanya
diadakan saat bulan Ramadhan dan di mulai sesudah ibadah sholat tarawih.
Benar-benar LARI menuju tengah malam. Tanpa ditemani oleh si Istribawel, saya
berangkat sendiri ke Monas yang menjadi titik start perlombaan. Karena ini adalah perdana, saya hanya ikut yang 5
kilometer saja. Itupun sudah terasa sangat melelahkan, mungkin saya terlalu
banyak menyantap makanan berbuka puasa, sehingga gerak pun menjadi lambat.
Namun hasilnya juga tak buruk, untuk 5 kilometer itu saya bisa mencatatkan
waktu 35 menit. Lumayan. J
Setelah
berhasil bikin badan cape’ pada lomba pertama, saya pun semakin semangat untuk
ikut lagi, mulai dari event lari yang
gratisan hingga yang berbayar, dari yang berbayar sedikit, hingga yang berbayar
lumayan. Saya pun bangkrut. Hehe. Tapi selama kegiatan ini positif tentunya
tidaklah menjadi sebuah masalah. Tak hanya asik lari sendiri, saya pun mulai
menularkan virus LARI ini ke teman-teman terdekat. Sebut saja Ano, teman
sekantor saya, Uzer teman sepermainan semasa di Medan, dan seperti mewabah,
teman-teman saya tersebut pun mulai mengajak temannya yang lain. Semangatnya
jadi bercabang banyak dan saya pun tidak lagi berlari sendiri.
Akibat
virus LARI yang telah menyebar dan karena seringnya event LARI diadakan di
Jakarta, maka saya dan beberapa teman yang sering ikut LARI akhirnya membentuk
tim ala-ala yang kami beri judul ; Tim Kurakura. Mengapa? Karena kami larinya
lambat. Haha. Biar lambat asal selamat. PeLARI-an ini pun menjadi semakin seru,
karena yang terlibat menjadi banyak.
Yah,
inilah PeLARI-an sebenarnya. Saya tidak hanya memanfaatkan kegiatan positif ini
untuk kesehatan, tetapi juga benar-benar menjadi PeLARI-an saya sebenarnya dari
kerinduan saya terhadap seseorang. Menghindari kegiatan negatif yang tentunya
menjadi tak penting, dan tentunya banyak hal menarik yang dapat saya temukan
dari kegiatan yang memang tak hanya sekedar PeLARI-an ini.