16 Mei 2013

Travel with an Angel


I love solo travel, but I could say that traveling as a couple offers a different dynamic than solo travel.

Cerita kali ini adalah tentang petualangan jalan berdua dengan si angelcilik yang saat ini sudah berstatus Ny. Harry Sanjaya. Perjalanannya juga menjadi tak sulit karena tidak perlu mencari hotel/kamar/guest house dengan dua kamar yang berbeda, cukup satu kamar dan tentu saja jadi hemat!.

Seperti yang sudah diketahui, saya bukanlah orang yang penuh dengan perencanaan, tetapi si Istri memang berbanding terbalik, segala sesuatunya teratur dan terencana. Akhirnya, menyatukan kedua manusia ini memang tidak mudah, adu argumentasi untuk hal kecil pun sering tak terelakkan lagi, meskipun di akhir cerita pemenangnya tetap saja SAYA. :D.

Destinasi perjalanan menjadi sumber kebingungan pertama kami karena  destinasi luar negeri telah kami coret sejak awal. Mengapa? Karena edisi kali ini harus lebih meng-Indonesia Raya, masih banyak destinasi wisata di Indonesia yang bagus-bagus –pake banget malah. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Lombok-Gili dan sekitarnya. Saya belum pernah kesana dan si Istri juga belum.  Jika melihat blog-testimonial yang disampaikan oleh orang yang pernah datang kesana, sepertinya tempat itu sangat menarik.

Kondisi kami yang saat ini masih berjauhan, yang satu di Malang dan saya di Jakarta, tidak membuat kami kesulitan. Pembagian tugas pun diberikan oleh si Istri bawel karena dia yang masih memiliki waktu yang cukup untuk perencanaan. Dia memutuskan untuk mengatur transportasi dan saya akomodasi. Alhamdulillah perjalanan kali ini banyak sponsornya, jadi tak perlu memikirkan akomodasi lagi karena sudah langsung diberikan oleh sahabat-sahabat baik dalam bentuk voucher dua Malam di Gili Trawangan dan satu malam di Senggigi, maka saya pun menyelesaikan tugas saya lebih dulu dari si Istri. Hehe.

Saya beruntung karena hanya perlu meliburkan diri sehari dari rutinitas kantor untuk perjalanan kali ini. Tidak perlu mengurangi jatah cuti karena diberikan izin sehari. Perjalanan dimulai hari Kamis –tanggal merah- pagi dan saya pun berangkat sendiri dari Jakarta dengan jadwal terbang pukul 6 pagi. Si Istri mendapat jadwal keberangkatan jam 7 pagi dari Surabaya, tetapi tetap saja dia harus berangkat lebih awal karena dia menetap sementara di Malang.

Penerbangan Jakarta-Lombok ditempuh dalam waktu hampir 2 jam dan karena ada perbedaan waktu 1 jam, maka saya mendarat pukul 9.30 WITA. Saya lebih dulu tiba dari si Istri. Sambil mencari informasi tentang Damri yang akan kami tumpangi menuju pelabuhan Bangsal, saya pun berkeliling bandara yang diberi nama Lombok Praya itu. Sepanjang yang saya ketahui, bandara tersebut diresmikan pada tanggal 20 Oktober 2011 oleh Presiden SBY, jadi sudah hampir dua tahun lebih. Desain utama gedung pada bandara ini sepertinya memang dibuat menyerupai rumah adat di Lombok, namun tentu saja menggunakan bahan-bahan baja modern. Bangunan bandara ini juga tak luas, tetapi berada di lokasi yang sangat luas, sehingga tampak lahan parkirnya menjadi sangat besar. Meskipun sebenarnya jadwal penerbangan di Lombok tidak seriuh di bandara Polonia, Medan, tetapi bandara ini masih lebih laik pakai dibanding Polonia, :D.

Tak kurang dari setengah jam menunggu, si Istri bawel pun tiba dan kami langsung saja bergegas menuju Damri yang sudah menunggu. Tiket Damri sudah saya beli sejak awal dan sepertinya jadwal keberangkatan Damri di bandara itu memang disesuaikan dengan jadwal kedatangan penumpang pesawat. Tujuan kami menaiki Damri itu adalah agar bisa tiba di terminal/pool Damri Senggigi dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil carteran untuk bisa tiba di pelabuhan Bangsal. Karena si Istri bawel telah mengkalkulasi dan hasilnya jauh lebih murah, saya pun ikut saja, toh memang transportasi sudah menjadi tugasnya dia. Hehe.

Sepanjang perjalanan menuju Senggigi malah kami lewatkan karena tertidur, ngantuknya luar biasa, tetapi dari Senggigi menuju pelabuhan Bangsal saya tak ingin mengulangi kesalahan kedua dan saya tidak menyesal. Indahnya hamparan laut dan pantai disana benar-benar membuat terpesona. Agak lebay sih ya, tetapi memang membuat takjub. Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan ke tempat itu. Tiba di Bangsal langsung saja kami menyeberang bersama rombongan yang lain, karena tujuan kami ke Gili Trawangan, tentu saja kami menuju kapal/perahu boat yang menuju tempat itu. Kurang dari 30 menit kami pun tiba, and I love that place, too much! Speechless.

Saya memang orang yang sangat suka dengan pantai. Suka dengan alam dan pemandangan bawah laut, suka main air dan hal yang berbau air. Pisces sejati J.
Kilauan pasir dan air di pantai itu menyatu dan memantulkan keindahan yang luar biasa, amazing. Beberapa saat saya bengong dan kemudian mendadak tersadar karena harus segera menuju hotel tempat menginap untuk check in.

Kami menginap dua malam di Vila Ombak, Gili Trawangan and there are plenty of things to do in that place. We can go on morning trips to another Gili islands, but we didn’t (it was too late), snorkeling, scuba diving, bicycling, walking or we could always just relax and sleep. Last choice it was not so me. When we’ve got hungry, there are many options –and of course HALAL. There are many street carts offering Ayam Taliwang or might you can visit one of many restaurant, most of them offering Seafoods. However, be aware that restaurants along the beach or near Vila Ombak are more expensive, my wife always notice and calculate it. Hehe.

Percayalah jika berlibur dua malam saja tidak akan cukup menikmati indah dan tenangnya kepulauan Gili. Selama dua hari disana, bersepeda mengelilingi pulau, menikmati sunrise dan sunset menjadi agenda wajib kami. Senang sekali rasanya bisa melupakan sejenak rutinitas dan bisa bahagia bersama si Istri bawel. Tetapi dengan sangat menyesal, kami harus mengakhiri perjalanan kami di kepulauan Gili dan kembali ke Senggigi. Hari Sabtu siang kami beranjak ke Dermaga dan menunggu boat yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Bangsal. Perjalanan kami di hari itu pun dilanjutkan dengan menyewa mobil plus supirnya untuk mengunjungi beberapa pantai lagi di Lombok dan membeli sedikit oleh-oleh untuk sanak saudara serta kerabat di kantor.

Setelah mengelilingi Lombok hingga menjelang sore, kami pun kembali ke Senggigi untuk menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort. Hotel ini tepat dipinggir pantai dengan view sunset yang sangat menarik. Beberapa foto siluet sempat diambil si Istri bawel dengan hasil foto yang lumayan. Hehe. Mencari makanan di Senggigi tidak semudah di Gili Trawangan, terutama tempat makan dengan menu/masakan Indonesia. Kami berjalan di sepanjang jalan raya Senggigi dan hampir kesulitan menemukan warteg. Ya iyalah, Senggigi kan bukan Tegal yah? Mana mungkin ada warteg. Hehe. Tempat makan yang paling banyak ditemui adalah Café dan Restaurant fine dining, lumayan berat sih J. Akhirnya kami pun makan di sebuah restaurant yang so-so, tujuannya supaya dinner-nya gak formal-formal banget.

Hari terakhir di Lombok kami putuskan untuk tetap bersantai di hotel saja. Berenang dan menikmati liburan yang akan berakhir. Saling bercerita dan berdiskusi tentang apa saja, rasa-rasanya kami berdua benar-benar tak ingin liburan itu segera berakhir. Stasiun Damri tak jauh dari hotel sehingga kami dengan mudah bisa menyesuaikan waktu keberangkatan kami dengan jadwal penerbangan untuk kembali. Si istri bawel akan kembali ke Surabaya dan saya ke Jakarta. Kami pun akan berpisah lagi untuk sementara.

Jarak bukanlah hal yang tidak biasa bagi kami, bahkan sejak memutuskan untuk meraih cita-cita bersama, kami juga sudah mengerti konsekuensinya dan tetap meyakini bahwa jarak akan menguatkan dan semakin mengeratkan. Karena saling terbiasa sendiri semuanya juga menjadi lebih mudah. Namun sangat berbeda kondisinya sore itu, si Angel – si Istri yang bawel, terus menggenggam erat tangan saya di ruang tunggu keberangkatan. Saya tau keinginannya untuk segera lekas menetap bersama sangat kuat, namun ketika dia ingat akan kewajiban dan impiannya dia mampu meluruhkan hasratnya. Saya tak pernah melarangnya untuk berambisi, meraih apa yang ia cita-citakan dan berinteraksi sosial dengan siapa saja.  Rasanya memang tak adil jika saya melarangnya. Saya baru dua tahun terakhir mengerti tentang hidupnya dan dia telah lebih dua puluh delapan tahun mengenal hidupnya sendiri. Saya hanya bisa menenangkannya sore itu bahwa kami akan dapat terus bersama, tak terpisahkan.

Sayup-sayup terdengar suara wanita pada pengeras suara menyampaikan bahwa penumpang pesawat tujuan Surabaya diminta untuk menaiki pesawat, meskipun dalam jadwal tiket seharusnya saya yang terbang lebih dulu, namun ternyata penerbangan ke Jakarta delayed. Satu pelukan dan ciuman hangat mendarat dipipiku, aku membalasnya dan dia pun menjauh. My Angel, we’ve learnt so much and had so many amazing experiences during this travel. For me, this year would definitely be the greatest year of my life. Of course, it has been hard sometimes, not just on me but it has also been hard on you.

Life isn’t always perfect, right?!

Jay

1 Mei 2013

Sebuah tag line ; Bahagia itu sederhana.


Choose our goodness. Itulah tag line yang pernah saya tulis pada posting-an dua tahun lalu. Ketika itu, saya bercerita tentang sahabat-sahabat saya yang telah menjauh dan memilih jalan hidup masing-masing. Saat ini kami memang telah berjarak –dalam arti nyata- dan komunikasi juga hanya disampaikan melalui sosial media.

Perjalanan hidup memang terasa sangat singkat. Segalanya dapat berubah dengan cepat. Waktu memang tak pernah ingin melambat untuk membiarkan setiap orang mengenang pengalaman atau hal apa saja yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Cerita persahabatan kami pun demikian, waktu sengaja meluruhkannya agar tak banyak yang harus dikenang.


Sedikit bercerita tentang sahabat, dua orang diantaranya telah menikah dan masing-masing dengan pria asing. Maksud dari pria asing tersebut adalah benar-benar asing. Bukan pria Jakarta, pria Indonesia, tetapi pria mancanegara. Masing-masing dari keduanya juga telah dikaruniai seorang anak dan saya telah menemui mereka. Alhamdulillah ga ada yang mirip ibunya (l.o.l), wajah keduanya benar-benar asing. –mancanegara. Keriuhan hati saya adalah pada saat melihat mereka tampak begitu bahagia dengan irama hidup yang mereka jalani saat ini. Meskipun tidak semuanya tampak baik, tetapi paling tidak mereka banyak tersenyum. Sangat sederhana.


Saya sangat suka pada pemilihan tag line  atau jingle iklan salah satu operator selular ; Bahagia itu sederhana. Akhir-akhir ini setiap ada iklan tersebut di TV, saya sejenak berhenti dari aktivitas yang saya lakukan, sambil meracau bahwa iklan itu benar. Tidak harus merencanakan banyak hal untuk bisa bahagia.  Saya berkata demikian mungkin juga karena saya bukanlah tipe perencana. Saya selalu membiarkan semuanya terjadi tanpa harus terorganisir. Bahkan cenderung skeptis dan meyakini bahwa segala hal yang terencana akan selalu gagal. Pun jika di akhir tahun kemarin tiba-tiba saya mengatakan bahwa pasti menikah di tahun ini, semuanya memang tidak pernah terencana.


Kedatangan saya ke Malang untuk mengunjungi si angelcilik yang sedang melanjutkan studi Master-nya di sana mungkin bisa dikatakan sebagai ujian saya untuk dapat naik tingkat. Mengapa ujian? Karena memang menguji dan melawan keinginan saya sendiri yang pada saat itu sebenarnya masih enggan untuk pergi kesana. Meluangkan banyak waktu untuk melepaskan kesibukan dari pekerjaan yang sedang padat menjadi alasan utama saya untuk tak pergi. Jika pun ada waktu untuk beristirahat, sebenarnya saya lebih memilihnya menjadi my-own-time-or-space. It means no other, no activities, no people, no someone or something special, yeah…only ME. Saya memang egois, namun juga bukan orang yang tidak bertanggungjawab dan melepaskan begitu saja komitmen saya, karena sudah berjanji, saya pun pergi. Ujian tingkat pertama saya lulus dengan nilai percobaan.


Terbang dari Jakarta menuju kota Malang tidak lama, hanya separuh dari waktu terbang saya ketika mudik ke Medan. Itu pun menjadi perjalanan kedua saya ke kota itu.  Sesampainya di bandara si angelcilik sudah menjemput dengan motornya dan selanjutnya saya diantarkan ke salah satu guest house di dekat kosnya. Seharian di Malang dengan cuaca yang sejuk menambah semangat untuk jalan kesana-kemari. Hingga malam bersama si angelcilik dan motornya saya pun kembali menjelajah kota Malang. Dan di malam yang dingin itulah pembicaraan tentang masa depan dimulai. Saya sampaikan bahwa tahun ini saya harus menikah.


Beberapa bulan sejak saat itu orang tua saya pun tiba di Trenggalek, Jawa Timur. Sempat kaget dengan jauhnya perjalanan, tetapi raut wajah mereka tampak antusias. Mungkin inilah pengharapan terbesar mereka atas anak keduanya. Kebahagian melepas tanggung jawab mereka atas anak yang telah di ajar dan dibesarkan. Jika ditanya sampai saat ini apakah bahagia paling terbesarku? Aku pasti akan mejawab. Bahagiaku adalah saat melihat keduanya –papa dan ibu- selalu tersenyum. Sangat sederhana.




Dan sekarang, tak kurang dari lima hari yang lalu. Bahagia saya memang sangat sederhana. Melepas status satu menjadi dua. Berikrar untuk bisa bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri. Dan tetap menatap ke depan tanpa rencana. Karena akan tetap ada kegagalan dalam setiap rencana. Saya tak suka gagal karena membawa kekecewaan.  Segala keinginan terdahulu –postingan 99 things about me- untuk bisa berikrar dengan pakaian serba putih juga terlaksana dengan lancar. Si angelcilik pemberi bahagia dan senyum mewujudkannya dengan sangat indah. Terima kasih terbesar untuknya atas senyum bahagia ini. Sangat sederhana.




Bahagia itu sederhana. Trust me!!




Jay