3 Des 2013

PeLARI-an

LARI. Semua tau bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu cabang olahraga yang paling mudah, murah dan lumrah. Dan sepertinya tahun ini aktivitas tersebut menjadi sedemikian populernya sehingga banyak sekali event yang diselenggarakan., terutama di kota ini ; Jakarta.


LARI bukanlah aktivitas olahraga yang asing bagi saya, sejak jaman sekolah dasar saya sudah sangat senang dengan olahraga yang satu ini karena sangat mudah dan tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Di masa kecil yang serba susah, sebab saya bukan dari keluarga yang kaya raya, maka tidak semua jenis olahraga bisa saya tahu dan saya mainkan. Pada masa itu saya bisa sangat iri dengan tetangga saya yang ikut les renang setiap minggu paginya. Tapi dari rasa iri itu saya jadi maksain diri untuk bisa renang juga. “Belajar sendiri saja”, itulah fikiran saya waktu itu. Dan hasilnya juga lumayan, saya bisa berenang dengan pelbagai gaya saat ini, yah karena belajar sendiri.


Kembali ke soal LARI.


Setelah saya menikah, saya masih tinggal berjauhan dengan si Istri bawel karena dia masih harus menyelesaikan pendidikan Magisternya. Itulah mengapa saya masih merasakan jika menikah itu memang tak berbeda dengan semasa saya masih melajang, hanya berbeda status dan tentunya tanggung jawab. Karena tak berbeda itulah maka saya tetap melakukan aktivitas dan hobi yang rutin saya lakukan, salah satunya adalah LARI.


Sepulang dari kantor entah itu LARI atau tidak, saya biasanya melakukan aktivitas olahraga. Untuk LARI biasanya saya akan langsung menuju ke salah satu dari dua pilihan tempat ; GBK atau Monas. Tapi saya lebih sering memilih GBK agar tak bosan. Bekerja di dalam lingkungan Monas membuat saya bosan dan di GBK saya bisa mendapat penyegaran.


Tahun ini LARI memang sedang menjadi olahraga primadona di dunia. Berbagai perlombaan juga datang silih berganti dan Jakarta sendiri juga tak mau ketinggalan mengadakan berbagai event lomba yang dikemas secara menarik sehingga menumbuhkan minat orang untuk ikut dan semangat berlari.


Lomba pertama yang saya ikuti di tahun ini adalah ‘Halo Night Run’ yang disponsori oleh salah satu operator selular terkemuka di Indonesia. Uniknya, lombanya diadakan saat bulan Ramadhan dan di mulai sesudah ibadah sholat tarawih. Benar-benar LARI menuju tengah malam. Tanpa ditemani oleh si Istribawel, saya berangkat sendiri ke Monas yang menjadi titik start perlombaan. Karena ini adalah perdana, saya hanya ikut yang 5 kilometer saja. Itupun sudah terasa sangat melelahkan, mungkin saya terlalu banyak menyantap makanan berbuka puasa, sehingga gerak pun menjadi lambat. Namun hasilnya juga tak buruk, untuk 5 kilometer itu saya bisa mencatatkan waktu 35 menit. Lumayan. J


Setelah berhasil bikin badan cape’ pada lomba pertama, saya pun semakin semangat untuk ikut lagi, mulai dari event lari yang gratisan hingga yang berbayar, dari yang berbayar sedikit, hingga yang berbayar lumayan.  Saya pun bangkrut. Hehe.  Tapi selama kegiatan ini positif tentunya tidaklah menjadi sebuah masalah. Tak hanya asik lari sendiri, saya pun mulai menularkan virus LARI ini ke teman-teman terdekat. Sebut saja Ano, teman sekantor saya, Uzer teman sepermainan semasa di Medan, dan seperti mewabah, teman-teman saya tersebut pun mulai mengajak temannya yang lain. Semangatnya jadi bercabang banyak dan saya pun tidak lagi berlari sendiri.


Akibat virus LARI yang telah menyebar dan karena seringnya event  LARI diadakan di Jakarta, maka saya dan beberapa teman yang sering ikut LARI akhirnya membentuk tim ala-ala yang kami beri judul ; Tim Kurakura. Mengapa? Karena kami larinya lambat. Haha. Biar lambat asal selamat. PeLARI-an ini pun menjadi semakin seru, karena yang terlibat menjadi banyak. 




Yah, inilah PeLARI-an sebenarnya. Saya tidak hanya memanfaatkan kegiatan positif ini untuk kesehatan, tetapi juga benar-benar menjadi PeLARI-an saya sebenarnya dari kerinduan saya terhadap seseorang. Menghindari kegiatan negatif yang tentunya menjadi tak penting, dan tentunya banyak hal menarik yang dapat saya temukan dari kegiatan yang memang tak hanya sekedar PeLARI-an ini.

11 Sep 2013

m.o.n.o.l.o.g




“The reason it hurts so much to separate is because our souls are connected”


waktunya telah tiba dan kita berada dalam titik yang sama
bukankah jarak akan menguatkan?
waktunya akan tiba saat kita akan merasa kembali berada dalam titik yang sama
bukankah titik itu simbol perhentian?

 nantinya hanya akan ada titik, tanpa spasi
setahun itu singkat, sayang...

 



16 Mei 2013

Travel with an Angel


I love solo travel, but I could say that traveling as a couple offers a different dynamic than solo travel.

Cerita kali ini adalah tentang petualangan jalan berdua dengan si angelcilik yang saat ini sudah berstatus Ny. Harry Sanjaya. Perjalanannya juga menjadi tak sulit karena tidak perlu mencari hotel/kamar/guest house dengan dua kamar yang berbeda, cukup satu kamar dan tentu saja jadi hemat!.

Seperti yang sudah diketahui, saya bukanlah orang yang penuh dengan perencanaan, tetapi si Istri memang berbanding terbalik, segala sesuatunya teratur dan terencana. Akhirnya, menyatukan kedua manusia ini memang tidak mudah, adu argumentasi untuk hal kecil pun sering tak terelakkan lagi, meskipun di akhir cerita pemenangnya tetap saja SAYA. :D.

Destinasi perjalanan menjadi sumber kebingungan pertama kami karena  destinasi luar negeri telah kami coret sejak awal. Mengapa? Karena edisi kali ini harus lebih meng-Indonesia Raya, masih banyak destinasi wisata di Indonesia yang bagus-bagus –pake banget malah. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Lombok-Gili dan sekitarnya. Saya belum pernah kesana dan si Istri juga belum.  Jika melihat blog-testimonial yang disampaikan oleh orang yang pernah datang kesana, sepertinya tempat itu sangat menarik.

Kondisi kami yang saat ini masih berjauhan, yang satu di Malang dan saya di Jakarta, tidak membuat kami kesulitan. Pembagian tugas pun diberikan oleh si Istri bawel karena dia yang masih memiliki waktu yang cukup untuk perencanaan. Dia memutuskan untuk mengatur transportasi dan saya akomodasi. Alhamdulillah perjalanan kali ini banyak sponsornya, jadi tak perlu memikirkan akomodasi lagi karena sudah langsung diberikan oleh sahabat-sahabat baik dalam bentuk voucher dua Malam di Gili Trawangan dan satu malam di Senggigi, maka saya pun menyelesaikan tugas saya lebih dulu dari si Istri. Hehe.

Saya beruntung karena hanya perlu meliburkan diri sehari dari rutinitas kantor untuk perjalanan kali ini. Tidak perlu mengurangi jatah cuti karena diberikan izin sehari. Perjalanan dimulai hari Kamis –tanggal merah- pagi dan saya pun berangkat sendiri dari Jakarta dengan jadwal terbang pukul 6 pagi. Si Istri mendapat jadwal keberangkatan jam 7 pagi dari Surabaya, tetapi tetap saja dia harus berangkat lebih awal karena dia menetap sementara di Malang.

Penerbangan Jakarta-Lombok ditempuh dalam waktu hampir 2 jam dan karena ada perbedaan waktu 1 jam, maka saya mendarat pukul 9.30 WITA. Saya lebih dulu tiba dari si Istri. Sambil mencari informasi tentang Damri yang akan kami tumpangi menuju pelabuhan Bangsal, saya pun berkeliling bandara yang diberi nama Lombok Praya itu. Sepanjang yang saya ketahui, bandara tersebut diresmikan pada tanggal 20 Oktober 2011 oleh Presiden SBY, jadi sudah hampir dua tahun lebih. Desain utama gedung pada bandara ini sepertinya memang dibuat menyerupai rumah adat di Lombok, namun tentu saja menggunakan bahan-bahan baja modern. Bangunan bandara ini juga tak luas, tetapi berada di lokasi yang sangat luas, sehingga tampak lahan parkirnya menjadi sangat besar. Meskipun sebenarnya jadwal penerbangan di Lombok tidak seriuh di bandara Polonia, Medan, tetapi bandara ini masih lebih laik pakai dibanding Polonia, :D.

Tak kurang dari setengah jam menunggu, si Istri bawel pun tiba dan kami langsung saja bergegas menuju Damri yang sudah menunggu. Tiket Damri sudah saya beli sejak awal dan sepertinya jadwal keberangkatan Damri di bandara itu memang disesuaikan dengan jadwal kedatangan penumpang pesawat. Tujuan kami menaiki Damri itu adalah agar bisa tiba di terminal/pool Damri Senggigi dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil carteran untuk bisa tiba di pelabuhan Bangsal. Karena si Istri bawel telah mengkalkulasi dan hasilnya jauh lebih murah, saya pun ikut saja, toh memang transportasi sudah menjadi tugasnya dia. Hehe.

Sepanjang perjalanan menuju Senggigi malah kami lewatkan karena tertidur, ngantuknya luar biasa, tetapi dari Senggigi menuju pelabuhan Bangsal saya tak ingin mengulangi kesalahan kedua dan saya tidak menyesal. Indahnya hamparan laut dan pantai disana benar-benar membuat terpesona. Agak lebay sih ya, tetapi memang membuat takjub. Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan ke tempat itu. Tiba di Bangsal langsung saja kami menyeberang bersama rombongan yang lain, karena tujuan kami ke Gili Trawangan, tentu saja kami menuju kapal/perahu boat yang menuju tempat itu. Kurang dari 30 menit kami pun tiba, and I love that place, too much! Speechless.

Saya memang orang yang sangat suka dengan pantai. Suka dengan alam dan pemandangan bawah laut, suka main air dan hal yang berbau air. Pisces sejati J.
Kilauan pasir dan air di pantai itu menyatu dan memantulkan keindahan yang luar biasa, amazing. Beberapa saat saya bengong dan kemudian mendadak tersadar karena harus segera menuju hotel tempat menginap untuk check in.

Kami menginap dua malam di Vila Ombak, Gili Trawangan and there are plenty of things to do in that place. We can go on morning trips to another Gili islands, but we didn’t (it was too late), snorkeling, scuba diving, bicycling, walking or we could always just relax and sleep. Last choice it was not so me. When we’ve got hungry, there are many options –and of course HALAL. There are many street carts offering Ayam Taliwang or might you can visit one of many restaurant, most of them offering Seafoods. However, be aware that restaurants along the beach or near Vila Ombak are more expensive, my wife always notice and calculate it. Hehe.

Percayalah jika berlibur dua malam saja tidak akan cukup menikmati indah dan tenangnya kepulauan Gili. Selama dua hari disana, bersepeda mengelilingi pulau, menikmati sunrise dan sunset menjadi agenda wajib kami. Senang sekali rasanya bisa melupakan sejenak rutinitas dan bisa bahagia bersama si Istri bawel. Tetapi dengan sangat menyesal, kami harus mengakhiri perjalanan kami di kepulauan Gili dan kembali ke Senggigi. Hari Sabtu siang kami beranjak ke Dermaga dan menunggu boat yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Bangsal. Perjalanan kami di hari itu pun dilanjutkan dengan menyewa mobil plus supirnya untuk mengunjungi beberapa pantai lagi di Lombok dan membeli sedikit oleh-oleh untuk sanak saudara serta kerabat di kantor.

Setelah mengelilingi Lombok hingga menjelang sore, kami pun kembali ke Senggigi untuk menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort. Hotel ini tepat dipinggir pantai dengan view sunset yang sangat menarik. Beberapa foto siluet sempat diambil si Istri bawel dengan hasil foto yang lumayan. Hehe. Mencari makanan di Senggigi tidak semudah di Gili Trawangan, terutama tempat makan dengan menu/masakan Indonesia. Kami berjalan di sepanjang jalan raya Senggigi dan hampir kesulitan menemukan warteg. Ya iyalah, Senggigi kan bukan Tegal yah? Mana mungkin ada warteg. Hehe. Tempat makan yang paling banyak ditemui adalah Café dan Restaurant fine dining, lumayan berat sih J. Akhirnya kami pun makan di sebuah restaurant yang so-so, tujuannya supaya dinner-nya gak formal-formal banget.

Hari terakhir di Lombok kami putuskan untuk tetap bersantai di hotel saja. Berenang dan menikmati liburan yang akan berakhir. Saling bercerita dan berdiskusi tentang apa saja, rasa-rasanya kami berdua benar-benar tak ingin liburan itu segera berakhir. Stasiun Damri tak jauh dari hotel sehingga kami dengan mudah bisa menyesuaikan waktu keberangkatan kami dengan jadwal penerbangan untuk kembali. Si istri bawel akan kembali ke Surabaya dan saya ke Jakarta. Kami pun akan berpisah lagi untuk sementara.

Jarak bukanlah hal yang tidak biasa bagi kami, bahkan sejak memutuskan untuk meraih cita-cita bersama, kami juga sudah mengerti konsekuensinya dan tetap meyakini bahwa jarak akan menguatkan dan semakin mengeratkan. Karena saling terbiasa sendiri semuanya juga menjadi lebih mudah. Namun sangat berbeda kondisinya sore itu, si Angel – si Istri yang bawel, terus menggenggam erat tangan saya di ruang tunggu keberangkatan. Saya tau keinginannya untuk segera lekas menetap bersama sangat kuat, namun ketika dia ingat akan kewajiban dan impiannya dia mampu meluruhkan hasratnya. Saya tak pernah melarangnya untuk berambisi, meraih apa yang ia cita-citakan dan berinteraksi sosial dengan siapa saja.  Rasanya memang tak adil jika saya melarangnya. Saya baru dua tahun terakhir mengerti tentang hidupnya dan dia telah lebih dua puluh delapan tahun mengenal hidupnya sendiri. Saya hanya bisa menenangkannya sore itu bahwa kami akan dapat terus bersama, tak terpisahkan.

Sayup-sayup terdengar suara wanita pada pengeras suara menyampaikan bahwa penumpang pesawat tujuan Surabaya diminta untuk menaiki pesawat, meskipun dalam jadwal tiket seharusnya saya yang terbang lebih dulu, namun ternyata penerbangan ke Jakarta delayed. Satu pelukan dan ciuman hangat mendarat dipipiku, aku membalasnya dan dia pun menjauh. My Angel, we’ve learnt so much and had so many amazing experiences during this travel. For me, this year would definitely be the greatest year of my life. Of course, it has been hard sometimes, not just on me but it has also been hard on you.

Life isn’t always perfect, right?!

Jay

1 Mei 2013

Sebuah tag line ; Bahagia itu sederhana.


Choose our goodness. Itulah tag line yang pernah saya tulis pada posting-an dua tahun lalu. Ketika itu, saya bercerita tentang sahabat-sahabat saya yang telah menjauh dan memilih jalan hidup masing-masing. Saat ini kami memang telah berjarak –dalam arti nyata- dan komunikasi juga hanya disampaikan melalui sosial media.

Perjalanan hidup memang terasa sangat singkat. Segalanya dapat berubah dengan cepat. Waktu memang tak pernah ingin melambat untuk membiarkan setiap orang mengenang pengalaman atau hal apa saja yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Cerita persahabatan kami pun demikian, waktu sengaja meluruhkannya agar tak banyak yang harus dikenang.


Sedikit bercerita tentang sahabat, dua orang diantaranya telah menikah dan masing-masing dengan pria asing. Maksud dari pria asing tersebut adalah benar-benar asing. Bukan pria Jakarta, pria Indonesia, tetapi pria mancanegara. Masing-masing dari keduanya juga telah dikaruniai seorang anak dan saya telah menemui mereka. Alhamdulillah ga ada yang mirip ibunya (l.o.l), wajah keduanya benar-benar asing. –mancanegara. Keriuhan hati saya adalah pada saat melihat mereka tampak begitu bahagia dengan irama hidup yang mereka jalani saat ini. Meskipun tidak semuanya tampak baik, tetapi paling tidak mereka banyak tersenyum. Sangat sederhana.


Saya sangat suka pada pemilihan tag line  atau jingle iklan salah satu operator selular ; Bahagia itu sederhana. Akhir-akhir ini setiap ada iklan tersebut di TV, saya sejenak berhenti dari aktivitas yang saya lakukan, sambil meracau bahwa iklan itu benar. Tidak harus merencanakan banyak hal untuk bisa bahagia.  Saya berkata demikian mungkin juga karena saya bukanlah tipe perencana. Saya selalu membiarkan semuanya terjadi tanpa harus terorganisir. Bahkan cenderung skeptis dan meyakini bahwa segala hal yang terencana akan selalu gagal. Pun jika di akhir tahun kemarin tiba-tiba saya mengatakan bahwa pasti menikah di tahun ini, semuanya memang tidak pernah terencana.


Kedatangan saya ke Malang untuk mengunjungi si angelcilik yang sedang melanjutkan studi Master-nya di sana mungkin bisa dikatakan sebagai ujian saya untuk dapat naik tingkat. Mengapa ujian? Karena memang menguji dan melawan keinginan saya sendiri yang pada saat itu sebenarnya masih enggan untuk pergi kesana. Meluangkan banyak waktu untuk melepaskan kesibukan dari pekerjaan yang sedang padat menjadi alasan utama saya untuk tak pergi. Jika pun ada waktu untuk beristirahat, sebenarnya saya lebih memilihnya menjadi my-own-time-or-space. It means no other, no activities, no people, no someone or something special, yeah…only ME. Saya memang egois, namun juga bukan orang yang tidak bertanggungjawab dan melepaskan begitu saja komitmen saya, karena sudah berjanji, saya pun pergi. Ujian tingkat pertama saya lulus dengan nilai percobaan.


Terbang dari Jakarta menuju kota Malang tidak lama, hanya separuh dari waktu terbang saya ketika mudik ke Medan. Itu pun menjadi perjalanan kedua saya ke kota itu.  Sesampainya di bandara si angelcilik sudah menjemput dengan motornya dan selanjutnya saya diantarkan ke salah satu guest house di dekat kosnya. Seharian di Malang dengan cuaca yang sejuk menambah semangat untuk jalan kesana-kemari. Hingga malam bersama si angelcilik dan motornya saya pun kembali menjelajah kota Malang. Dan di malam yang dingin itulah pembicaraan tentang masa depan dimulai. Saya sampaikan bahwa tahun ini saya harus menikah.


Beberapa bulan sejak saat itu orang tua saya pun tiba di Trenggalek, Jawa Timur. Sempat kaget dengan jauhnya perjalanan, tetapi raut wajah mereka tampak antusias. Mungkin inilah pengharapan terbesar mereka atas anak keduanya. Kebahagian melepas tanggung jawab mereka atas anak yang telah di ajar dan dibesarkan. Jika ditanya sampai saat ini apakah bahagia paling terbesarku? Aku pasti akan mejawab. Bahagiaku adalah saat melihat keduanya –papa dan ibu- selalu tersenyum. Sangat sederhana.




Dan sekarang, tak kurang dari lima hari yang lalu. Bahagia saya memang sangat sederhana. Melepas status satu menjadi dua. Berikrar untuk bisa bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri. Dan tetap menatap ke depan tanpa rencana. Karena akan tetap ada kegagalan dalam setiap rencana. Saya tak suka gagal karena membawa kekecewaan.  Segala keinginan terdahulu –postingan 99 things about me- untuk bisa berikrar dengan pakaian serba putih juga terlaksana dengan lancar. Si angelcilik pemberi bahagia dan senyum mewujudkannya dengan sangat indah. Terima kasih terbesar untuknya atas senyum bahagia ini. Sangat sederhana.




Bahagia itu sederhana. Trust me!!




Jay

3 Feb 2013

Resolusi


Satu tahun memang tidak lama. Waktu bergulir seakan dipompa terus-menerus agar bisa lebih cepat. Rasa-rasanya baru kemarin saya menulis perihal re-aktifasi blog ini dan terus menulis apa yang terfikirkan. Namun, itu pun gagal saya laksanakan. Ada saja yang menghambat keinginan saya untuk menulis. Tidak hanya karena kesibukan di kantor dan pekerjaan tambahan di luar Tupoksi –Tugas, pokok dan fungsi- saya sebagai seorang Abdi Negara, tetapi juga karena otak saya membeku ketika menghantarkan saraf keinginan untuk menulis. Tak pelak, blog ini pun menjadi es ; membatu.

Sekumpulan catatan kecil telah saya tuliskan di Handphone saya tentang banyak hal. Kerinduan saya untuk menulis sangat tidak terbendung. Tetapi hasrat mematahkannya. Pun jika saat ini saya menulis karena segalanya telah membuncah –menggelisahkan. Karena itu, saya rangkumkan catatan kecil setahun perjalanan hidup saya yang tak sempat terekam oleh saya dalam blog ini.  Boleh jadi, rangkuman ini menjadi resolusi saya untuk tidak melupakan pengalaman hidup yang telah saya jalani.

Sejak tulisan di blog terakhir, pekerjaan di kantor menggila. Semuanya berawal dengan kepindahan pak Bambang, rekan kerja saya yang mendapat promosi menjadi salah satu Kepala Seksi di Suku Dinas Kominfomas Kepulauan Seribu. Secara tupoksi, pekerjaan beliau tak banyak bersinggungan dengan saya, hanya saja dia juga merangkap menjadi Pejabat Pengadaan Barang dan Jasa yang harus ditinggalkannya ketika dia dipromosikan untuk menjadi Kepala Seksi. Tugas terakhir itulah yang harus digantikan oleh staf lain yang memiliki sertifikat Pengadaan Barang/Jasa. Karena itu, saya pun ditunjuk secara sepihak, Surat Keputusan bertandatangan Kepala Dinas langsung saja disodorkan tanpa basa-basi. Saya pasrah.

And the journey begins…

Saya yang rasanya baru saja mengerti tentang dunia pengadaan barang dan jasa masih merasa belum cukup ilmu untuk terjun bebas menggelutinya. Sang mantan PPBJ Dinas sebelumnya juga dipromosikan ke Kepulauan Seribu, karena itu saya pun harus kebut ilmu saya sendiri. Meski lulus dan dapat sertifikat Pengadaan Barang/Jasa, rasa-rasanya saya juga tak sepenuhnya paham mengenai seluk beluknya.  Alhamdulillah masih ada koneksi internet kantor yang bisa memanjakan saya dengan web browsing ‘Google’, sehingga segala keingintahuan saya terjawab.

Awal tahun seperti saat sekarang ini, sebenarnya tidak banyak yang dapat dikerjakan. APBD juga belum di sahkan oleh DPRD. Sejak pergantian Gubernur setelah Pilkada kemarin banyak perubahan pada system kinerja sehingga menyebabkan mundurnya jadwal pengesahan APBD tahun ini. Mengenai hasil pembangunan, tentu saja masih terlalu prematur untuk membicarakannya.

Keluangan waktu yang ada saya pergunakan untuk mempersiapkan pernak-pernik urusan pernikahan saya. Keputusan itu saya ambil pada September di tahun kemarin. Segalanya telah terfikirkan dan saya yakin tahun ini adalah waktu yang tepat. Meskipun jika saya harus mengingat lagi, masih ada resolusi-prinsip-dan syarat sah pribadi yang masih belum saya penuhi untuk dapat menikah. Apakah itu? Tentu saja memulai dan menyelesaikan gelar Master.

Tidak mudah memang ketika kita menolak kepercayaan pimpinan dalam hal menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan. Pun ketika setelah beberapa bulan saya berkutat pada penyelesaian dokumen dan tugas pengadaan barang/jasa, saya masih belum bisa merasakan nikmatnya tugas yang saya emban itu. Sempat mendaftar ujian masuk pada salah satu perguruan tinggi negeri untuk melanjutkan gelar Master, tetapi akhirnya saya urungkan. Saya kalah sebelum bertanding. Tidak yakin dengan keadaan dan kecukupan waktu yang akan saya tempuh menyelesaikan keduanya ; Kerja dan Kuliah.

Tidak semudah ketika kita melisankan atau menuliskannya dalam selembar kertas. Resolusi menjadi imajinasi yang takkan teraih karena sebenarnya ia juga bukan harga mati. Selalu ada spekulasi dalam perjalanan hidup seseorang, jalani saja sesuai alurnya. Jika pun mesti ada perubahan, jangan pernah panik. Mari selalu berfikir cepat untuk mencari rencana lain yang bahkan mungkin lebih baik.

Jay

29 Mar 2012

new look of my blog

Welcome to my new-fresh-look blog!

I changed the color of my page. I decided to choose Green color for some reasons :). Greens are representing environment, fresh and young. As a young person, I'd really concern about problems of enviromental damage.

In many ways, every single person makes hundred of their activities that directly affects the quality of environtment, such as the quality of air they breathe, the quality of water they drink and etc. As a human being, actually we have enough knowledge to dramatically reduce our enviromental impact. There are many things we can do to make a difference. Examples ; save electricity, plant trees, bike (am not really sure I can do this in Jakarta :p), avoid waste by reduce, recycle and reuse packaging and products or we should create our own solutions.

Apart from that things, it is my new-fresh-look blog!. I did some touch-ups in few parts of it. In hope I will be more active and prolific in writing the posting stories about my life or may be some articles. Now, thank you for seeing and supporting this blog. Keep coming and reading, and of course don't forget to give your comments, critics or suggestions to further furnish the look of this site ;).


Jay

29 Feb 2012

stories about twenty nine

time does indeed fly, so speedy...!!

...and guess what is so special about February?

Too many things, I must say. Apart from the feelings that time flies, i just realized that so much happened in a year time. Actually, it tooks so long intense and diverse that I, myself, can't simply believe that I had done so many things, yet they all together combined feel like going so quickly. Besides the core concerns that I always embrace ; health, work, spirit, friends, 'angel' (last not really sure necessary in that order :p), I also worked on a lot more other things.

Stories started from Singapore and ended at Medan -my hometown. What a real journey and indeed life is a journey. My sister got married. I'm not in a jealous way even I feel more excitement when helped her marriage preparation. I always happy for her, my lovely sister ever.

February is not about valentine's day. It is also about my birthday. Turning a year older is not always easy to deal with. What still i can't do is to appreciate the present and cherish the future. Sometimes i am affraid of getting older and that i am losing my youth. As i thinking that much fear I have in my mind and heart so make me much feel tired with this youth-ness. However, getting older, I believe, is a blessing for some. When i can learn and try to be wiser.

Sometimes I am so jealous seeing other younger -close older- people succeeded in so many ways, easily. They could get everything they want without having made so much efforts. The other ways, I also thought and I wished I could go back to the past and did something differently -take a chance and studied of economics for example- or I had known of the future as it is today and I could have taken totally different paths. But i must to be realistic, this is my path and this is my way. I realized that this is my challange and I gotta think differently. The opportunities are scattered in front of me and I have to grab them and use them.

So, there is nothing that I regret of my past 29 years of life. It is time to move on and its time to be a better man. To be part of dynamic change, surely to be more happy, making plan a thing that i haven't thought -like a married life. And for sure, revolutionize my paths and innovate my road that i'd never seen before...

Note : Hey Angel, thanks again for this year birthday cake!


Jay