I
love solo travel, but I could say that traveling as a couple offers a different
dynamic than solo travel.
Cerita kali ini adalah
tentang petualangan jalan berdua dengan si angelcilik yang saat ini sudah
berstatus Ny. Harry Sanjaya. Perjalanannya juga menjadi tak sulit karena tidak
perlu mencari hotel/kamar/guest house dengan dua kamar yang berbeda, cukup satu
kamar dan tentu saja jadi hemat!.
Seperti yang sudah diketahui,
saya bukanlah orang yang penuh dengan perencanaan, tetapi si Istri memang
berbanding terbalik, segala sesuatunya teratur dan terencana. Akhirnya,
menyatukan kedua manusia ini memang tidak mudah, adu argumentasi untuk hal
kecil pun sering tak terelakkan lagi, meskipun di akhir cerita pemenangnya
tetap saja SAYA. :D.
Destinasi perjalanan menjadi
sumber kebingungan pertama kami karena destinasi luar negeri telah kami coret sejak
awal. Mengapa? Karena edisi kali ini harus lebih meng-Indonesia Raya, masih
banyak destinasi wisata di Indonesia yang bagus-bagus –pake banget malah. Akhirnya
kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Lombok-Gili dan sekitarnya. Saya
belum pernah kesana dan si Istri juga belum.
Jika melihat blog-testimonial yang disampaikan oleh orang yang pernah
datang kesana, sepertinya tempat itu sangat menarik.
Kondisi kami yang saat ini
masih berjauhan, yang satu di Malang dan saya di Jakarta, tidak membuat kami
kesulitan. Pembagian tugas pun diberikan oleh si Istri bawel karena dia yang
masih memiliki waktu yang cukup untuk perencanaan. Dia memutuskan untuk
mengatur transportasi dan saya akomodasi. Alhamdulillah perjalanan kali ini
banyak sponsornya, jadi tak perlu memikirkan akomodasi lagi karena sudah
langsung diberikan oleh sahabat-sahabat baik dalam bentuk voucher dua Malam di Gili Trawangan dan satu malam di Senggigi,
maka saya pun menyelesaikan tugas saya lebih dulu dari si Istri. Hehe.
Saya
beruntung karena hanya perlu meliburkan diri sehari dari rutinitas kantor untuk
perjalanan kali ini. Tidak perlu mengurangi jatah cuti karena diberikan izin
sehari. Perjalanan dimulai hari Kamis –tanggal merah- pagi dan saya pun
berangkat sendiri dari Jakarta dengan jadwal terbang pukul 6 pagi. Si Istri
mendapat jadwal keberangkatan jam 7 pagi dari Surabaya, tetapi tetap saja dia
harus berangkat lebih awal karena dia menetap sementara di Malang.
Penerbangan
Jakarta-Lombok ditempuh dalam waktu hampir 2 jam dan karena ada perbedaan waktu
1 jam, maka saya mendarat pukul 9.30 WITA. Saya lebih dulu tiba dari si Istri.
Sambil mencari informasi tentang Damri yang akan kami tumpangi menuju pelabuhan
Bangsal, saya pun berkeliling bandara yang diberi nama Lombok Praya itu. Sepanjang
yang saya ketahui, bandara tersebut diresmikan pada tanggal 20 Oktober 2011
oleh Presiden SBY, jadi sudah hampir dua tahun lebih. Desain utama gedung pada
bandara ini sepertinya memang dibuat menyerupai rumah adat di Lombok, namun
tentu saja menggunakan bahan-bahan baja modern. Bangunan bandara ini juga tak luas,
tetapi berada di lokasi yang sangat luas, sehingga tampak lahan parkirnya
menjadi sangat besar. Meskipun sebenarnya jadwal penerbangan di Lombok tidak
seriuh di bandara Polonia, Medan, tetapi bandara ini masih lebih laik pakai
dibanding Polonia, :D.
Tak
kurang dari setengah jam menunggu, si Istri bawel pun tiba dan kami langsung
saja bergegas menuju Damri yang sudah menunggu. Tiket Damri sudah saya beli
sejak awal dan sepertinya jadwal keberangkatan Damri di bandara itu memang
disesuaikan dengan jadwal kedatangan penumpang pesawat. Tujuan kami menaiki
Damri itu adalah agar bisa tiba di terminal/pool Damri Senggigi dan melanjutkan
perjalanan dengan menggunakan mobil carteran
untuk bisa tiba di pelabuhan Bangsal. Karena si Istri bawel telah mengkalkulasi
dan hasilnya jauh lebih murah, saya pun ikut saja, toh memang transportasi
sudah menjadi tugasnya dia. Hehe.
Sepanjang
perjalanan menuju Senggigi malah kami lewatkan karena tertidur, ngantuknya luar
biasa, tetapi dari Senggigi menuju pelabuhan Bangsal saya tak ingin mengulangi
kesalahan kedua dan saya tidak menyesal. Indahnya hamparan laut dan pantai
disana benar-benar membuat terpesona. Agak lebay sih ya, tetapi memang membuat
takjub. Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan ke tempat itu. Tiba di Bangsal
langsung saja kami menyeberang bersama rombongan yang lain, karena tujuan kami
ke Gili Trawangan, tentu saja kami menuju kapal/perahu boat yang menuju tempat itu. Kurang dari 30 menit kami pun tiba, and I love that place, too much! Speechless.
Saya
memang orang yang sangat suka dengan pantai. Suka dengan alam dan pemandangan
bawah laut, suka main air dan hal yang berbau air. Pisces sejati J.
Kilauan
pasir dan air di pantai itu menyatu dan memantulkan keindahan yang luar biasa, amazing. Beberapa saat saya bengong dan
kemudian mendadak tersadar karena harus segera menuju hotel tempat menginap
untuk check in.
Kami
menginap dua malam di Vila Ombak,
Gili Trawangan and there are plenty of
things to do in that place. We can go on morning trips to another Gili islands,
but we didn’t (it was too late), snorkeling, scuba diving, bicycling, walking
or we could always just relax and sleep. Last choice it was not so me. When we’ve
got hungry, there are many options –and of course HALAL. There are many street
carts offering Ayam Taliwang or might you can visit one of many restaurant,
most of them offering Seafoods. However, be aware that restaurants along the
beach or near Vila Ombak are more expensive, my wife always notice and
calculate it. Hehe.
Percayalah
jika berlibur dua malam saja tidak akan cukup menikmati indah dan tenangnya
kepulauan Gili. Selama dua hari disana, bersepeda mengelilingi pulau, menikmati
sunrise dan sunset menjadi agenda wajib kami. Senang sekali rasanya bisa
melupakan sejenak rutinitas dan bisa bahagia bersama si Istri bawel. Tetapi
dengan sangat menyesal, kami harus mengakhiri perjalanan kami di kepulauan Gili
dan kembali ke Senggigi. Hari Sabtu siang kami beranjak ke Dermaga dan menunggu
boat yang akan membawa kami kembali
ke Pelabuhan Bangsal. Perjalanan kami di hari itu pun dilanjutkan dengan
menyewa mobil plus supirnya untuk mengunjungi beberapa pantai lagi di Lombok
dan membeli sedikit oleh-oleh untuk sanak saudara serta kerabat di kantor.
Setelah
mengelilingi Lombok hingga menjelang sore, kami pun kembali ke Senggigi untuk
menginap di Sheraton Senggigi Beach
Resort. Hotel ini tepat dipinggir pantai dengan view sunset yang sangat menarik. Beberapa foto siluet sempat
diambil si Istri bawel dengan hasil foto yang lumayan. Hehe. Mencari makanan di
Senggigi tidak semudah di Gili Trawangan, terutama tempat makan dengan
menu/masakan Indonesia. Kami berjalan di sepanjang jalan raya Senggigi dan
hampir kesulitan menemukan warteg. Ya iyalah, Senggigi kan bukan Tegal yah?
Mana mungkin ada warteg. Hehe. Tempat makan yang paling banyak ditemui adalah Café dan Restaurant fine dining, lumayan berat sih J.
Akhirnya kami pun makan di sebuah restaurant yang so-so, tujuannya supaya dinner-nya
gak formal-formal banget.
Hari terakhir
di Lombok kami putuskan untuk tetap bersantai di hotel saja. Berenang dan
menikmati liburan yang akan berakhir. Saling bercerita dan berdiskusi tentang
apa saja, rasa-rasanya kami berdua benar-benar tak ingin liburan itu segera
berakhir. Stasiun Damri tak jauh dari hotel sehingga kami dengan mudah bisa
menyesuaikan waktu keberangkatan kami dengan jadwal penerbangan untuk kembali.
Si istri bawel akan kembali ke Surabaya dan saya ke Jakarta. Kami pun akan
berpisah lagi untuk sementara.
Jarak
bukanlah hal yang tidak biasa bagi kami, bahkan sejak memutuskan untuk meraih
cita-cita bersama, kami juga sudah mengerti konsekuensinya dan tetap meyakini
bahwa jarak akan menguatkan dan semakin mengeratkan. Karena saling terbiasa
sendiri semuanya juga menjadi lebih mudah. Namun sangat berbeda kondisinya sore
itu, si Angel – si Istri yang bawel, terus menggenggam erat tangan saya di
ruang tunggu keberangkatan. Saya tau keinginannya untuk segera lekas menetap
bersama sangat kuat, namun ketika dia ingat akan kewajiban dan impiannya dia
mampu meluruhkan hasratnya. Saya tak pernah melarangnya untuk berambisi, meraih
apa yang ia cita-citakan dan berinteraksi sosial dengan siapa saja. Rasanya memang tak adil jika saya
melarangnya. Saya baru dua tahun terakhir mengerti tentang hidupnya dan dia
telah lebih dua puluh delapan tahun mengenal hidupnya sendiri. Saya hanya bisa
menenangkannya sore itu bahwa kami akan dapat terus bersama, tak terpisahkan.
Sayup-sayup
terdengar suara wanita pada pengeras suara menyampaikan bahwa penumpang pesawat
tujuan Surabaya diminta untuk menaiki pesawat, meskipun dalam jadwal tiket
seharusnya saya yang terbang lebih dulu, namun ternyata penerbangan ke Jakarta delayed. Satu pelukan dan ciuman hangat
mendarat dipipiku, aku membalasnya dan dia pun menjauh. My Angel, we’ve learnt so much and had so many amazing experiences
during this travel. For me, this year would definitely be the greatest year of
my life. Of course, it has been hard sometimes, not just on me but it has also
been hard on you.
Life isn’t always perfect, right?!
Jay