22 Feb 2010

Dua-puluh-tujuh.

Itu bukan angka keramat. Tetapi, sejujurnya adalah angka yang sangat ingin aku hindari. Angka yang membuat posisiku terjepit. Merasa tua, tentu saja iya!.

Jika saja ada satu tahun dimana aku bisa menerima bonus pengurangan untuk setiap bertambahnya usia lahir seseorang, aku dengan sangat senang -tentu saja,berterima kasih banyak- akan menerimanya. Dengan penuh pengharapan, setiap tahun adalah bonus.

Tahun ini. Dua-puluh-satu Februari. Aku kembali menghitung berapa lama aku telah menghabiskan waktu-ku yang telah aku buang dengan percuma, melakukan perkalian dengan tindakan bodoh apa yang aku perbuat, menguranginya dengan tindakan tepat yang telah aku pilih dan membaginya dengan prestasi dan pengharapanku yang telah terkabul. Hasilnya, aku tetap menjadi TUA.

Meskipun begitu, aku tidak menyangkal bahwa karunia ALLAH SWT begitu besar padaku. Tahun ini aku masih menunggu satu pekerjaan -yang sejujurnya belum tau apakah bisa aku nikmati- dengan harapan2 baru dan tentunya dengan kondisi sosial yang baru. Aku juga tidak pernah bisa menolak nikmat-MU, karena aku masih diberikan kesempatan bernafas dan berkreasi. Bahagiaku tak hanya sampai tahap itu. Aku sangat bersyukur pada-MU, aku masih memiliki keluarga yang lengkap, bahkan sebuah kelompok persahabatan yang sudah aku anggap melebihi keluargaku; Walker's Family!!!.


Cerita tentang mereka tak akan pernah habisnya. Perselisihan bisa teratasi dan kesengajaan untuk memperburuk adalah pilihan bijak mereka untuk membuatku sedih. Semakin sedih mereka semakin bahagia. "Hey, dude!! Don't Punk With My Heart!!!". Tapi kebahagiaan sesudah permainan itu adalah yang terbaik. Aku cinta kalian!!.

Satu lagi bahagiaku yang tak terkira. Keinginanku untuk bisa berdiri di sana. Di bundaran Hotel Indonesia dengan Sang 'Patung Selamat Datang' akhirnya kesampaian. Ditempat itu aku me-lafaz-kan pengharapanku, doaku, dan inginku di tahun ini. Tempat dimana aku benar2 bisa menjadi seorang warga negara yang baik. Dan di tasbihkan untuk menetap disini. Sebuah wujud pengharapan yang akan mengalir indah, dan penuh suka. Tanpa duka.

Aku bahagia. Sekali lagi. Aku bahagia!!!!
Dua-puluh-satu-Februari-ku di usia Dua-puluh-tujuh-ku.
Dengan Edisi ; Bundaran Hotel Indonesia.

Terima kasih semua, untuk wish-nya, doa-nya, dan what-if-nya ...
Terima kasih walker's untuk surprised-nya.


Aku cinta kalian.

17 Feb 2010

Mengaku salah.

Hai sobat....!
Pernah atau tidak melakukan sebuah kesalahan? Aku pernah. Bukan hanya pernah, tetapi sering. Yang terpenting kita bisa belajar banyak hal dari kesalahan itu. Di ambil hikmahnya, di buang buruknya. Lebih baik lagi jika kesalahan tersebut menjadi sebuah pelajaran berharga kita untuk bisa memohon maaf kepada orang - mungkin teman, sahabat, atau keluarga- yang telah kita dzalimi(baca: sakiti). Sedikit memang yang mampu begitu. Dan bukan pekerjaan yang mudah untuk memohon maaf. Lebih gampang memberikan maaf. Cukup bertutur ikhlas di dalam hati dan melepaskan keluh kesah yang ada. Maaf pun di beri.

Mengapa sulit memohon maaf? Meminta maaf kepada orang lain berarti mengaku salah. Tentunya akan dipandang sebagai orang terburuk dan tersudut. Tetapi, jika kita mencermati lebih dalam seharusnya hal tersebut mengandung makna bahwa kita adalah makhluk dengan hati yang besar. Sadar akan perbuatan kita dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain yang mungkin telah tersakiti oleh kita. Kenyataannya, memang inilah hal tersulit.

Aku juga bukan orang yang baik dan bisa besar hati. Tapi setidaknya aku penuh koreksi. Dan jujur dari dalam hati aku lebih senang memohon maaf dari pada terus memaafkan. Jika memohon maaf saja aku bisa mudah, apalagi memaafkan. Ya kan?

Tulisan ini memaknai perjalanan dalam sebuah ikatan persahabatan yang aku lalui. Besar kepala kita seharusnya bisa dikalahkan dengan besarnya hati kita. Aku memang typical Pisces sejati. Selalu ingin menghindari konflik dan menginginkan hidup selalu damai. Tak berani mengambil resiko yang berlebihan. Tetapi, justru hal tersebut aku jadikan penyeimbang ketika aku hidup berdampingan dengan sahabat atau keluarga yang kontradiktif.

Berbesar hatilah sahabat. Dengan demikian, kamu akan tetap dianggap sahabat yang hebat jika mampu mengalahkan ego-mu untuk memohon maaf. Tak hanya untuk kesalahan yang sepenuhnya kau sadari telah kau lakukan. Tetapi untuk banyak hal yg memang diluar dari kesengajaanmu dan dianggap buruk oleh orang lain. Bijaksanamu membesarkan hatimu.

Dedikasiku untuk sahabatku, temanku atau bukan siapa-siapa sekalipun.
Berfikirlah, jika kau benar-benar ingin menjauh.


Jay.

15 Feb 2010

Boneka Jepun.


Seperti yang sudah aku bilang kemarin, akan ada hari dimana kita bisa menukar satu hal yang akan bisa kita kenang. Tentang persahabatan dan persaudaraan. Aku senang bisa mendapatkan empat-belas-februari-ku bersama beberapa sahabat yang sudah seperti keluarga.

Tepatnya dirumahku. Saling menukar hadiah yang telah kami persiapkan. Ceria dengan menikmati makanan dan minuman yang kami persiapkan sendiri. Bahagia berkumpul.

Aku mendapatkan pajangan Boneka Jepun. Hadiah dengan nomor 6 (enam). Dengan pemilik Bang Irman. Bonekanya lucu. Aku suka sekali. Terima kasih semuanya.

Semoga akan menjadi hal yang selalu bisa kita kenang. Tak hanya di hari berkasih sayang.


Jay.

12 Feb 2010

Berkasih sayang.

Tidak harus menjadi orang yang berpasangan untuk saling berkasih sayang, kan?? Dalam banyak hal aku sangat setuju pernyataan tersebut. Zina? Memangnya aku berbicara masalah seks? TIDAK. Aku berbicara mengenai komitmen untuk saling menyayangi. Membagi perasaan dan mempersatukannya menjadi sebuah bentuk yang indah.

Aku juga tak sebegitu romantis dan melankolisnya, jika harus merayakan satu hari dimana semua orang menyebutnya sebagai hari penuh kasih sayang. Setiap hari juga bisa kan? Tetapi, aku juga tidak berkeberatan untuk sekedar berpartisipasi -tepatnya memeriahkan- rencana yang sudah aku buat.

It's all about Walker's Family. Maknanya bukan berarti aku kembali dilahirkan di sebuah keluarga Amerika yang baru. Tetapi aku bahagia bisa menjadi bagian dari 'keluarga-keluargaan' yang dibentuk karena keakraban dan kedekatan sahabat-sahabat yang terlahir memang untuk bersahabat.
Sedikit aku ceritakan, ini mengenai ikatan sahabat baik yang selayaknya telah seperti saudara, KELUARGA -tepatnya-. Banyak keriangan dan kebahagiaan disana. Berkumpul, bercerita dan bersedih bersama. Ada yang hilang dan ada yang datang. Tapi kami menikmatinya. Sisi keunikan masing-masing sifat yang akan menutupi kelebihan dan kekurangan sesamanya. Mereka. Kita. Kami. BAHAGIA.
Tapi sekalipun demikian, Bahagia tak selalu harus abadi. Perselisihan menguatkan. Bahkan mungkin menghancurkan. Tapi kuyakin tak akan demikian.
Dua hari lagi adalah perjanjian awal, kami semua -minus bagian lain yang berada di negara lain- berjanji berkumpul bersama. Di rumahku. Saling bertukar kasih sayang. Bertukar cinderamata. Bertukar apa yang akan dan bisa dikenang.
Dan, meskipun menunggu dua hari rasanya seperti setahun. Kami merasa lebih baik setahun. Ada perselisihan yang harus di luruskan. Tentang meminta maaf dan memaafkan. Ego dan Alter Ego. Tentang prinsip dan kesalahan. Ada yang hilang. Satu mengundurkan diri. Berjanji tak selamanya, tapi tak berharap.

Hari ini. Dua hari lagi. Aku sudah bersiap menukar kasih sayang. Menukar apa yang bisa aku berikan untuk dikenang. Kalian saudaraku. Keluargaku di hatiku yang luas. Aku telah siap. Untuk dua hari lagi. Kita berkumpul. Meskipun tanpa kamu. Tidak menghargai. Karena memang tidak berharga. Bukan keluarga asli. Karena kau hanya ingin dianggap asli. Tapi kau tetap bagian keluarga. Jauh. Membagi kami. Tidak akan. Aku mau semua. Bahagia. Kenangan. Berkasih sayang.


Jay.

4 Feb 2010

Semua tentang Februari.

Aku lanjutkan dengan Februari ini.

Apa yang kamu ingat tentang Februari? Jawabannya pasti SAMA, yaitu C.I.N.T.A.
Tapi taukah kamu bahwa salah seorang pencinta (baca: aku) dilahirkan di bulan ini??. Busyet deh, gaya benerrr!!!.
Februari selalu menjadi bulan yang tentunya selalu aku ingat -melebihi bulan lainnya- dalam hal apa saja. Tak jauh beda dengan tahun ini, seperti tahun sebelumnya, aku akan tetap mensyukuri aku bisa terlahir di dunia dalam bulan ini.

Tahun ini pasti akan beda. Karena tahun ini aku menjadi pengangguran -meskipun dalam arti yang sebenarnya tidak benar seperti itu- tak jelas. Mengapa demikian? Karena aku mulai jenuh tanpa rutinitas. Meskipun ketika aku bekerja, ada banyak kejenuhan untuk urusan pekerjaan, tetapi setidaknya masih banyak yang bisa aku lakukan untuk mengatasinya, bahkan tanpa menampik satu hal yang pastinya setiap akhir bulan aku dapatkan. UANG.

Tahun ini akankah Februari-ku menjadi tahun suramku? Tahun dimana aku tak mungkin lagi mengecap manisnya empat-belas-februari dan bahagianya dua-puluh-satu-februari?. Jika ada pertanyaan demikian, aku, dan pastinya juga dengan ketidakpastian ini akan memberikan jawaban ; Maybe. Yup, Maybe Yes, Maybe No. Bingung. Murung.

Berbicara mengenai tahun ini, kemarin aku melihat penanggalan -atau kalender kali yee...- untuk bulan Februari 2010. Lihatlah betapa indahnya tanggalan itu. Unik. Ada empat kali hari senin-selasa-rabu-kamis-jumat-sabtu-minggu. Semuanya masing-masing hanya EMPAT KALI. Hal tersebut tentunya mempermudah setiap orang menghitung dan menyusun rencana kegiatan. Manisnya Februari.

Dan, Februari ini masih akan di mulai. Aku masih banyak berharap waktu cepat bergulir menyembunyikan rasa kejenuhan ini. Agar otakku juga tidak membeku. Memberikan manisnya dan bahagianya beberapa tanggal di bulan ini yang sudah aku lingkari setiap tahunnya.

Menyusun dan menyiapkan masa depan. Aku Mulai. Februari-ku.


Jay.