Gelombang pertama, Di hari Sabtu dua pekan yang lalu saya gunakan untuk mengangkat barang-barang yang teramat berat dan tidak mungkin bisa dibawa dengan citycar. Saya juga sempat terheran-heran dengan banyaknya barang yang ada. Saya memberikan sedikit gambaran kos-an saya terdahulu ; Itu adalah kos yang sangat sempit. Dengan ruang 3x3 meter, tanpa Air Conditioner tetapi kamar mandi ada di dalam kamar, sehingga saya tidak perlu repot untuk berhanduk dan berbasahan keluar kamar. Dengan gambaran seperti itu, saya juga berfikir pastilah dengan mengangkat semua barang yang ada di dalamnya akan cukup dalam satu mobil pick-up saja. Ternyata saya salah besar. Setelah satu persatu barang dimasukkan, tetap saja barang yang ada tidak seluruhnya bisa terangkat. Jika dipaksakan sebenarnya bisa saja masuk semua, tetapi saya memutuskan untuk mengangkat sebagian barang dengan mobil Xenia saja jika mobil tersebut sedang tidak di rental-kan. Alasan lain yang membuat saya tidak mengangkat seluruh barang adalah rumah yang akan saya tinggali tersebut masih belum layak huni. Jika dipaksakan sebenarnya bisa, tetapi tentunya saya mencari nyamannya saja. Karena masih ada libur tambahan lain di pekan yang sama, saya pun memutuskan untuk sementara menetap di kos dulu.
Gelombang kedua, Saat libur Imlek hari Kamis yang lalu, saya memutuskan untuk pindahan yang sebenarnya. Artinya, saya akan meninggalkan wilayah Karet-Setiabudi dan sekitarnya, kemudian menyerahkan kunci ke Mba Erni sang penjaga kos. Untungnya saat itu ada mobil dan sudah direncanakan untuk tidak dirental-kan di hari itu. Berita buruknya saya harus masuk ke kantor untuk inventaris beberapa barang pengadaan yang ada di Divisi kantorku. Alhamdulillah selalu saja da jalan dan masih ada kerabat yang mau membantu. Barang saya terangkat dan saya pun tetap masuk bekerja.
Menempati ruang baru seperti memberikan nafas dan celah yang baru untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Sangat berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya, saat ini lingkungannya lebih nyaman, tenang dan sebenarnya lebih bertetangga. Suatu komplek cluster yang terdiri dari beberapa blok dan pos penjagaan serta portal disetiap jalan masuknya membuat lokasi ini terbilang aman dan nyaman.
Menempati ruang baru berarti harus berbenah. Membersihkan dan menata barang-barang yang sudah dikumpulkan dalam satu ruangan agar lebih indah di pandang mata. Saya antusias, hanya saja ada kegundahan menempati rumah tinggal ini. Jarak yang jauh dan waktu tidur yang menjadi singkat. Mudah-mudahan semuanya bisa dikondisikan, artinya saya harus menambah jam tidur di kantor, hehe. Alhamdulillah dengan semangat yang ada, seluruh barang bisa di tata dengan baik. Tercipta lagi kamar mungil yang bersih, rapi dan sehat. Tempat saya beristirahat setelah lelah seharian

Setelah selesai berbenah kamar, ruang tengah, dan dapur, rasanya mata ini nyaman sekali. Sebenarnya prosesnya juga tidak langsung selesai dalam sehari saja, pengerjaannya pun dilakukan saat kembali dari kantor dan tambahan libur di hari Sabtu dan Minggu. Tidak juga dengan keadaan yang baik-baik saja, tetapi di bumbui dengan sedikit konflik, hehe.
Tak hanya menyangkut rumah, berbenah pun saya terapkan dalam hal lainnya. Dalam hal pekerjaan kantor, diri sendiri dan untuk masa depan. Kemarin, si Papa sempat menghubungi dan saya dapatkan berita baik darinya. Alhamdulillah ada pengharapan besar untuk masa yang akan datang. Kemudian, saya dapati berita baik hari ini dari seorang teman yang baru saja mendapatkan kabar dari penyelenggara beasiswa ADS dan dia dinyatakan Lulus. Wah...saya turut berbahagia untuk beliau. Berita baik baru saja ia dapatkan siang tadi. Saya tau perjuangannya keras untuk mendapatkan beasiswa itu, jaminannya adalah pengalaman kerja di beberapa remote area yang membuatnya harus siap ke wilayah yang sulit air bahkan listrik sekalipun. Doakan saya menyusul teman. Saya yakin, teman saya ini pun tak sebegitu mudahnya untuk bisa lulus shortlist hingga tahapan Interview yang harus dilaluinya di kota Padang, wilayah ia mengusulkan beasiswanya. Cerita manis yang ia dapatkan di akhir adalah hasil berbenahnya selama beberapa tahun dalam cerita hidupnya yang mungkin sulit. Mandiri dan ditinggal untuk selama-lamanya oleh kedua orang tuanya. Sembilan bulan pun akan dilaluinya di Denpasar -wilayah yang dipilih panitia ADS- untuk memperdalam ilmu IELTS nya.
Pengalaman dan berita baik luar biasa yang aku dapatkan di hari ini memompa semangatku untuk bisa bekerja dengan bersyukur dan ikhlas. Paling tidak, harapan untuk melanjutkan studiku masih bisa terbuka lebar. Masih banyak peluang kedepannya untuk mengarah ke manusia yang lebih baik dengan berbenah.
Mari kita berbenah, sobat !!!
Jay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar