Choose our goodness. Itulah tag line yang pernah saya tulis pada posting-an dua tahun lalu. Ketika itu,
saya bercerita tentang sahabat-sahabat saya yang telah menjauh dan memilih jalan
hidup masing-masing. Saat ini kami memang telah berjarak –dalam arti nyata- dan
komunikasi juga hanya disampaikan melalui sosial media.
Perjalanan
hidup memang terasa sangat singkat. Segalanya dapat berubah dengan cepat. Waktu
memang tak pernah ingin melambat untuk membiarkan setiap orang mengenang
pengalaman atau hal apa saja yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Cerita
persahabatan kami pun demikian, waktu sengaja meluruhkannya agar tak banyak
yang harus dikenang.
Sedikit
bercerita tentang sahabat, dua orang diantaranya telah menikah dan
masing-masing dengan pria asing. Maksud dari pria asing tersebut adalah
benar-benar asing. Bukan pria Jakarta, pria Indonesia, tetapi pria mancanegara.
Masing-masing dari keduanya juga telah dikaruniai seorang anak dan saya telah
menemui mereka. Alhamdulillah ga ada yang mirip ibunya (l.o.l), wajah keduanya
benar-benar asing. –mancanegara. Keriuhan hati saya adalah pada saat melihat
mereka tampak begitu bahagia dengan irama hidup yang mereka jalani saat ini.
Meskipun tidak semuanya tampak baik, tetapi paling tidak mereka banyak
tersenyum. Sangat sederhana.
Saya
sangat suka pada pemilihan tag line atau jingle
iklan salah satu operator selular ; Bahagia itu sederhana. Akhir-akhir ini
setiap ada iklan tersebut di TV, saya sejenak berhenti dari aktivitas yang saya
lakukan, sambil meracau bahwa iklan itu benar. Tidak harus merencanakan banyak
hal untuk bisa bahagia. Saya berkata
demikian mungkin juga karena saya bukanlah tipe perencana. Saya selalu membiarkan
semuanya terjadi tanpa harus terorganisir. Bahkan cenderung skeptis dan
meyakini bahwa segala hal yang terencana akan selalu gagal. Pun jika di akhir
tahun kemarin tiba-tiba saya mengatakan bahwa pasti menikah di tahun ini,
semuanya memang tidak pernah terencana.
Kedatangan
saya ke Malang untuk mengunjungi si angelcilik
yang sedang melanjutkan studi Master-nya di sana mungkin bisa dikatakan sebagai
ujian saya untuk dapat naik tingkat. Mengapa ujian? Karena memang menguji dan
melawan keinginan saya sendiri yang pada saat itu sebenarnya masih enggan untuk
pergi kesana. Meluangkan banyak waktu untuk melepaskan kesibukan dari pekerjaan
yang sedang padat menjadi alasan utama saya untuk tak pergi. Jika pun ada waktu
untuk beristirahat, sebenarnya saya lebih memilihnya menjadi my-own-time-or-space. It means no other, no
activities, no people, no someone or something special, yeah…only ME. Saya
memang egois, namun juga bukan orang yang tidak bertanggungjawab dan melepaskan
begitu saja komitmen saya, karena sudah berjanji, saya pun pergi. Ujian tingkat
pertama saya lulus dengan nilai percobaan.
Terbang
dari Jakarta menuju kota Malang tidak lama, hanya separuh dari waktu terbang
saya ketika mudik ke Medan. Itu pun menjadi perjalanan kedua saya ke kota itu. Sesampainya di bandara si angelcilik sudah menjemput dengan motornya dan selanjutnya saya
diantarkan ke salah satu guest house
di dekat kosnya. Seharian di Malang dengan cuaca yang sejuk menambah semangat
untuk jalan kesana-kemari. Hingga malam bersama si angelcilik dan motornya saya pun kembali menjelajah kota Malang. Dan
di malam yang dingin itulah pembicaraan tentang masa depan dimulai. Saya
sampaikan bahwa tahun ini saya harus menikah.
Beberapa
bulan sejak saat itu orang tua saya pun tiba di Trenggalek, Jawa Timur. Sempat
kaget dengan jauhnya perjalanan, tetapi raut wajah mereka tampak antusias.
Mungkin inilah pengharapan terbesar mereka atas anak keduanya. Kebahagian
melepas tanggung jawab mereka atas anak yang telah di ajar dan dibesarkan. Jika
ditanya sampai saat ini apakah bahagia paling terbesarku? Aku pasti akan
mejawab. Bahagiaku adalah saat melihat keduanya –papa dan ibu- selalu
tersenyum. Sangat sederhana.
Dan
sekarang, tak kurang dari lima hari yang lalu. Bahagia saya memang sangat
sederhana. Melepas status satu menjadi dua. Berikrar untuk bisa bertanggung
jawab tidak hanya untuk diri sendiri. Dan tetap menatap ke depan tanpa rencana.
Karena akan tetap ada kegagalan dalam setiap rencana. Saya tak suka gagal
karena membawa kekecewaan. Segala
keinginan terdahulu –postingan 99 things about me- untuk bisa berikrar dengan
pakaian serba putih juga terlaksana dengan lancar. Si angelcilik pemberi bahagia dan senyum mewujudkannya dengan sangat
indah. Terima kasih terbesar untuknya atas senyum bahagia ini. Sangat sederhana.
Bahagia
itu sederhana. Trust me!!
Jay

Tidak ada komentar:
Posting Komentar