1 Mei 2013

Sebuah tag line ; Bahagia itu sederhana.


Choose our goodness. Itulah tag line yang pernah saya tulis pada posting-an dua tahun lalu. Ketika itu, saya bercerita tentang sahabat-sahabat saya yang telah menjauh dan memilih jalan hidup masing-masing. Saat ini kami memang telah berjarak –dalam arti nyata- dan komunikasi juga hanya disampaikan melalui sosial media.

Perjalanan hidup memang terasa sangat singkat. Segalanya dapat berubah dengan cepat. Waktu memang tak pernah ingin melambat untuk membiarkan setiap orang mengenang pengalaman atau hal apa saja yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Cerita persahabatan kami pun demikian, waktu sengaja meluruhkannya agar tak banyak yang harus dikenang.


Sedikit bercerita tentang sahabat, dua orang diantaranya telah menikah dan masing-masing dengan pria asing. Maksud dari pria asing tersebut adalah benar-benar asing. Bukan pria Jakarta, pria Indonesia, tetapi pria mancanegara. Masing-masing dari keduanya juga telah dikaruniai seorang anak dan saya telah menemui mereka. Alhamdulillah ga ada yang mirip ibunya (l.o.l), wajah keduanya benar-benar asing. –mancanegara. Keriuhan hati saya adalah pada saat melihat mereka tampak begitu bahagia dengan irama hidup yang mereka jalani saat ini. Meskipun tidak semuanya tampak baik, tetapi paling tidak mereka banyak tersenyum. Sangat sederhana.


Saya sangat suka pada pemilihan tag line  atau jingle iklan salah satu operator selular ; Bahagia itu sederhana. Akhir-akhir ini setiap ada iklan tersebut di TV, saya sejenak berhenti dari aktivitas yang saya lakukan, sambil meracau bahwa iklan itu benar. Tidak harus merencanakan banyak hal untuk bisa bahagia.  Saya berkata demikian mungkin juga karena saya bukanlah tipe perencana. Saya selalu membiarkan semuanya terjadi tanpa harus terorganisir. Bahkan cenderung skeptis dan meyakini bahwa segala hal yang terencana akan selalu gagal. Pun jika di akhir tahun kemarin tiba-tiba saya mengatakan bahwa pasti menikah di tahun ini, semuanya memang tidak pernah terencana.


Kedatangan saya ke Malang untuk mengunjungi si angelcilik yang sedang melanjutkan studi Master-nya di sana mungkin bisa dikatakan sebagai ujian saya untuk dapat naik tingkat. Mengapa ujian? Karena memang menguji dan melawan keinginan saya sendiri yang pada saat itu sebenarnya masih enggan untuk pergi kesana. Meluangkan banyak waktu untuk melepaskan kesibukan dari pekerjaan yang sedang padat menjadi alasan utama saya untuk tak pergi. Jika pun ada waktu untuk beristirahat, sebenarnya saya lebih memilihnya menjadi my-own-time-or-space. It means no other, no activities, no people, no someone or something special, yeah…only ME. Saya memang egois, namun juga bukan orang yang tidak bertanggungjawab dan melepaskan begitu saja komitmen saya, karena sudah berjanji, saya pun pergi. Ujian tingkat pertama saya lulus dengan nilai percobaan.


Terbang dari Jakarta menuju kota Malang tidak lama, hanya separuh dari waktu terbang saya ketika mudik ke Medan. Itu pun menjadi perjalanan kedua saya ke kota itu.  Sesampainya di bandara si angelcilik sudah menjemput dengan motornya dan selanjutnya saya diantarkan ke salah satu guest house di dekat kosnya. Seharian di Malang dengan cuaca yang sejuk menambah semangat untuk jalan kesana-kemari. Hingga malam bersama si angelcilik dan motornya saya pun kembali menjelajah kota Malang. Dan di malam yang dingin itulah pembicaraan tentang masa depan dimulai. Saya sampaikan bahwa tahun ini saya harus menikah.


Beberapa bulan sejak saat itu orang tua saya pun tiba di Trenggalek, Jawa Timur. Sempat kaget dengan jauhnya perjalanan, tetapi raut wajah mereka tampak antusias. Mungkin inilah pengharapan terbesar mereka atas anak keduanya. Kebahagian melepas tanggung jawab mereka atas anak yang telah di ajar dan dibesarkan. Jika ditanya sampai saat ini apakah bahagia paling terbesarku? Aku pasti akan mejawab. Bahagiaku adalah saat melihat keduanya –papa dan ibu- selalu tersenyum. Sangat sederhana.




Dan sekarang, tak kurang dari lima hari yang lalu. Bahagia saya memang sangat sederhana. Melepas status satu menjadi dua. Berikrar untuk bisa bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri. Dan tetap menatap ke depan tanpa rencana. Karena akan tetap ada kegagalan dalam setiap rencana. Saya tak suka gagal karena membawa kekecewaan.  Segala keinginan terdahulu –postingan 99 things about me- untuk bisa berikrar dengan pakaian serba putih juga terlaksana dengan lancar. Si angelcilik pemberi bahagia dan senyum mewujudkannya dengan sangat indah. Terima kasih terbesar untuknya atas senyum bahagia ini. Sangat sederhana.




Bahagia itu sederhana. Trust me!!




Jay

Tidak ada komentar: