10 Jan 2012

2012 - Reflection of Hope

New year is new hope. It means we're turning a new phase of our life. Hope as always is another dreams of prosperity, health, grace and bless. We all know that different people, different destiny. There is people live in riches and glory, but please don't close your eyes, we can see some people also live in poverty and misery.

Its been a year that I am not writing in this blog. My life has been up-and-down all the time. Almost two years that I have this current job, which i enjoy a lot so far and surely for the longer run. I am 'still' happy with my life, satisfied with all blessing I have.

I can take care of my self even though I often difficult to making a big decision. I am still struggling to balance all life aspects surround me, slowly, one at a time. But the most important thing is 'I love My Life!'.

Aside of good life, I have briefly mentioned two balls of my life ; Job and Spirit.
I am working my job, take it seriously and be proud of it. My job given me a lot of chances to do so many things. Though, sometimes when I was bored with those routinity I always have spirit. Spirits are friends and 'angel'. I've got a lot of friends here -In Jakarta- that I can talk to, go out and study with. I'm very glad to have them around with me. My spirit also coming for health. I had been taking routine medication to deal with my sinusitis and tonsillitis. I feel much much better with myself and my super health now.

So, It's 2012. In this part of the world where I am now, at least I know it in my mind that new year has flipped. I wish may I-we- all have another great bless year and happy.


Jay

28 Des 2011

don't go anywhere, this page will be updated soon..



Jay

21 Feb 2011

Chapter 28 : It is not a sin.

Menjadi dua-puluh-delapan bukanlah sebuah dosa.

Sebenarnya tidak ada hal yang begitu spesial. Semuanya sama dan hanya dikemas secara berbeda. Begitulah saya memaknai hari ini. Bukannya tidak bersyukur untuk babak baru dalam pengurangan usia saya, tetapi kok sepertinya saya sungkan untuk merayakannya ; tidak seharusnya merayakan umur yang hilang.

Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena selalu memberikan rejeki dan nikmat luar biasa tanpa pernah bisa di duga. Masih ingat dalam benak saya di postingan setahun yang lalu, bersama sahabat-sahabat yang luar biasa melewati malam pergantian hari itu dengan berjalan kaki sembari meyakinkan diri bahwa masa depan masih begitu panjangnya. Sahabat yang layaknya keluarga dan telah menghilang satu persatu, membentuk keluarga kecil yang baru, bahkan mungkin lebih bahagia.

Di setiap pengulangan hari lahir ini, saya tidak pernah membuat resolusi. Jika pun saya kecewa, mungkin karena tidak banyak yang telah saya lakukan semasa umur saya belum berkurang. Tetapi ketika usia bertambah, saya fikir itu bukanlah sebuah dosa besar. Pencapaian hingga usia saat ini adalah nikmat luar biasa dari Allah SWT dan haruslah di syukuri.

Bonus di hari ini adalah kejutan cake dari si Angel dan pesan singkat dari Papa di siang hari untuk ucapan ulang tahun. Pesan itu sarat makna tapi juga luar biasa, karena memang jauh dari kebiasannya untuk melakukan hal yang demikian. Selama aku jadi Jakarta, baru kali ini Papa ingat ulang tahunku dan bukan aku yang minta untuk diingat olehnya. Alhamdulillah..:D.

Jay

19 Feb 2011

choose our goodness...

...walker's family...

-----thisphototakenbyTemiya-----
-----and without Walkers Family Bali, M and V-
----



...tentang masa-masa indah persaudaraan...
...tentang potongan puzzle yang berserakan dan terpisah...
...tentang puing-puing yang dapat tertata kembali...
...tentang pasang surut lautan dengan siklus yang tepat...

...kita telah berjarak meski tak terputus...
...kita telah tentukan arah di setiap persimpangan yang ada...
...kita sebait puisi rumit dari berbaris hasrat yang tersirat...
...kita cadas yang keras dan tak terhempas...

-about you who destroyed-
-about you who disappeared-
-about you who got married-
-about you who wanted to loneliness-

about our choose...
and choose our goodness


Jay

11 Feb 2011

sebaris



"Saya mulai berpartisipasi dalam acara lawas ; Kemacetan Jakarta"




Jay

9 Feb 2011

berbenah

Seminggu kemarin saya lelah berbenah. Setelah membuat keputusan untuk pindah domisili dari kos-an menjadi rumah-an, saya pun segera berbenah. Prosesi pindahan dibagi menjadi dua gelombang *gaya bener*.

Gelombang pertama, Di hari Sabtu dua pekan yang lalu saya gunakan untuk mengangkat barang-barang yang teramat berat dan tidak mungkin bisa dibawa dengan citycar. Saya juga sempat terheran-heran dengan banyaknya barang yang ada. Saya memberikan sedikit gambaran kos-an saya terdahulu ; Itu adalah kos yang sangat sempit. Dengan ruang 3x3 meter, tanpa Air Conditioner tetapi kamar mandi ada di dalam kamar, sehingga saya tidak perlu repot untuk berhanduk dan berbasahan keluar kamar. Dengan gambaran seperti itu, saya juga berfikir pastilah dengan mengangkat semua barang yang ada di dalamnya akan cukup dalam satu mobil pick-up saja. Ternyata saya salah besar. Setelah satu persatu barang dimasukkan, tetap saja barang yang ada tidak seluruhnya bisa terangkat. Jika dipaksakan sebenarnya bisa saja masuk semua, tetapi saya memutuskan untuk mengangkat sebagian barang dengan mobil Xenia saja jika mobil tersebut sedang tidak di rental-kan. Alasan lain yang membuat saya tidak mengangkat seluruh barang adalah rumah yang akan saya tinggali tersebut masih belum layak huni. Jika dipaksakan sebenarnya bisa, tetapi tentunya saya mencari nyamannya saja. Karena masih ada libur tambahan lain di pekan yang sama, saya pun memutuskan untuk sementara menetap di kos dulu.

Gelombang kedua, Saat libur Imlek hari Kamis yang lalu, saya memutuskan untuk pindahan yang sebenarnya. Artinya, saya akan meninggalkan wilayah Karet-Setiabudi dan sekitarnya, kemudian menyerahkan kunci ke Mba Erni sang penjaga kos. Untungnya saat itu ada mobil dan sudah direncanakan untuk tidak dirental-kan di hari itu. Berita buruknya saya harus masuk ke kantor untuk inventaris beberapa barang pengadaan yang ada di Divisi kantorku. Alhamdulillah selalu saja da jalan dan masih ada kerabat yang mau membantu. Barang saya terangkat dan saya pun tetap masuk bekerja.

Menempati ruang baru seperti memberikan nafas dan celah yang baru untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Sangat berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya, saat ini lingkungannya lebih nyaman, tenang dan sebenarnya lebih bertetangga. Suatu komplek cluster yang terdiri dari beberapa blok dan pos penjagaan serta portal disetiap jalan masuknya membuat lokasi ini terbilang aman dan nyaman.

Menempati ruang baru berarti harus berbenah. Membersihkan dan menata barang-barang yang sudah dikumpulkan dalam satu ruangan agar lebih indah di pandang mata. Saya antusias, hanya saja ada kegundahan menempati rumah tinggal ini. Jarak yang jauh dan waktu tidur yang menjadi singkat. Mudah-mudahan semuanya bisa dikondisikan, artinya saya harus menambah jam tidur di kantor, hehe. Alhamdulillah dengan semangat yang ada, seluruh barang bisa di tata dengan baik. Tercipta lagi kamar mungil yang bersih, rapi dan sehat. Tempat saya beristirahat setelah lelah seharian tidak bekerja.


Setelah selesai berbenah kamar, ruang tengah, dan dapur, rasanya mata ini nyaman sekali. Sebenarnya prosesnya juga tidak langsung selesai dalam sehari saja, pengerjaannya pun dilakukan saat kembali dari kantor dan tambahan libur di hari Sabtu dan Minggu. Tidak juga dengan keadaan yang baik-baik saja, tetapi di bumbui dengan sedikit konflik, hehe.

Tak hanya menyangkut rumah, berbenah pun saya terapkan dalam hal lainnya. Dalam hal pekerjaan kantor, diri sendiri dan untuk masa depan. Kemarin, si Papa sempat menghubungi dan saya dapatkan berita baik darinya. Alhamdulillah ada pengharapan besar untuk masa yang akan datang. Kemudian, saya dapati berita baik hari ini dari seorang teman yang baru saja mendapatkan kabar dari penyelenggara beasiswa ADS dan dia dinyatakan Lulus. Wah...saya turut berbahagia untuk beliau. Berita baik baru saja ia dapatkan siang tadi. Saya tau perjuangannya keras untuk mendapatkan beasiswa itu, jaminannya adalah pengalaman kerja di beberapa remote area yang membuatnya harus siap ke wilayah yang sulit air bahkan listrik sekalipun. Doakan saya menyusul teman. Saya yakin, teman saya ini pun tak sebegitu mudahnya untuk bisa lulus shortlist hingga tahapan Interview yang harus dilaluinya di kota Padang, wilayah ia mengusulkan beasiswanya. Cerita manis yang ia dapatkan di akhir adalah hasil berbenahnya selama beberapa tahun dalam cerita hidupnya yang mungkin sulit. Mandiri dan ditinggal untuk selama-lamanya oleh kedua orang tuanya. Sembilan bulan pun akan dilaluinya di Denpasar -wilayah yang dipilih panitia ADS- untuk memperdalam ilmu IELTS nya.

Pengalaman dan berita baik luar biasa yang aku dapatkan di hari ini memompa semangatku untuk bisa bekerja dengan bersyukur dan ikhlas. Paling tidak, harapan untuk melanjutkan studiku masih bisa terbuka lebar. Masih banyak peluang kedepannya untuk mengarah ke manusia yang lebih baik dengan berbenah.

Mari kita berbenah, sobat !!!

Jay

1 Feb 2011

decision


Kita selalu dihadapkan pada berbagai macam pilihan saat kita ingin memutuskan satu hal penting. Terkadang alternatif yang ada justru semakin membuat kita bimbang untuk menentukan arah atau tujuan akhir kita. Bukannya malah memberikan kemudahan untuk membuat keputusan, tetapi justru malah memperbesar ruang bimbang kita. Waktu menjadi terbuang percuma, keputusan pun tak jelas arahnya.

Beberapa minggu ini, beberapa kali saya dihadapkan pada suatu kondisi untuk harus mengambil keputusan singkat ; take it or leave it!. Keputusan taktis, yang membuat saya bimbang dengan adanya beberapa alternatif yang ada. Dimulai dari menetapkan hati dan masa depan dengan pilihan yang sulit serta tingkat kenyamanan yang berbeda. Membuat saya harus istikharah berulang-ulang. Pun saya tak pernah bisa langsung mendapatkan jawaban. Mungkin karena saya adalah orang yang penuh dengan kehati-hatian. *lebih tepatnya penuh kebimbangan.

Jika sudah begini keadaannya, saya lebih senang berkomunikasi dengan Ibu. Bukannya saya tidak memiliki teman atau sahabat untuk di ajak berbingung-bingung, tetapi untuk beberapa subjek dan masalah saya lebih nyaman berbicara dengan Ibu. Lha, Papa kemana? Papa juga enak di ajak berdiskusi, masukannya terkadang lebih cerdas. Tapi, waktu dia yang sedikit mahal, membuat sulit untuk sinkronisasinya. Dulu, semasa di Medan saja, meski satu rumah, bertemu dia sehari dalam seminggu saja sulit. Papa memang sudah lama meninggalkan rutinitas kantor, tetapi pekerjaannya yang sekarang memang mengharuskannya jarang di rumah. Untungnya sekarang dia jauh lebih peduli, sempat beberapa kali menghubungi dan saat itu masih bisa di ajak berdiskusi mengenai keputusanku untuk mengambil pilihan pekerjaan yang ada sekarang. *curcol jadinya

Alhamdulillah setelah berdiskusi dengan Ibu, alternatif pun menciut dan keputusan menjadi lebih mudah aku ambil. Diskusi dengan beliau tidak hanya sebatas memutuskan tetapi lebih memberikan masukan untuk kedepannya. Tentu saja, dengan nasehat standart ; ga boleh tinggal sholat, jaga pergaulan dengan lingkungan yang baik dan Say No To Drugs. Hahaha. Ibu memang Duta anti Narkoba! :D. Keputusan pun aku ambil...

Other case. Saya dihadapkan pada pilihan untuk bisa lebih menghemat!. Ada kerabat menawarkan untuk tinggal bersamanya. Dia memiliki rumah dengan beberapa kamar, karena dia belum menikah maka orangtuanya menyarankan agar ia mengajak saya tinggal disana. Tawaran menariknya adalah ; saya tak harus membayar bulanan seperti layaknya kos-kosan, tetapi hanya ikut membantu membayar beberapa tagihan pendukung kehidupan di rumah itu. Menarik sekali bukan? Tetapi, itu juga tidak langsung saya Iya kan. Pertimbangan jarak tempuh ke kantor, waktu istirahat yang pastinya berkurang *jam tidur saya panjang soalnya, haha* dan perhitungan biaya bahan bakar transportasi yang juga harus benar-benar dikalkulasi.

Akhirnya, kembali meminta saran dari Ibu serta melibatkan Papa saya kali ini -karena bertepatan dia menghubungi- dan hasilnya saya semakin bingung. Hehe. Mereka tentu saja berhak memberi saran dengan sisi subjektif mereka, namun keputusan dikembalikan kepada saya, alasannya karena saya yang akan menjalani rutinitas di rumah itu setiap harinya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk pindahan. Tentu saja dengan alasan efisiensi. Hari Sabtu kemarin pun saya telah memindahkan beberapa barang saya kesana. Tetapi tidak langsung pindah saat itu juga. Hari Kamis depan saya putuskan waktunya berbenah di rumah baru tersebut.

------
Membuat keputusan terkadang bisa dilakukan dengan sangat cepatnya. Apalagi saat membeli suatu barang, saya akan langsung membuat keputusan 'Iya', walaupun tak jelas ada uangnya atau tidak. Hahahaa ; Mr. Shopper.
Tetapi, keputusan juga bisa dengan sulit di ambil, terutama jika melibatkan orang lain, tentang masa depan dan kenyamanan diri sendiri. Hal tersebut berlaku pada kedua cases saya tadi.
Namun, apapun hasil yg di dapat, yakini saja itu yang terbaik. Dengan tidak mengenyampingkan rasa syukur kita yang luar biasa kepada ArRahman dan ArRahim. Kemudian, jalani dengan ikhlas dan istiqamah :).

Jay
Powered by Telkomsel BlackBerry®